Selasa, 18 Juli 2017

Ciptakan Bahagiamu tanpa Tergantung pada Negara

Jika ada orang yang terlalu serius membicarakan masalah negara, padahal negara tak sedikit pun membicarakan dirinya maka si orang tadi adalah tergolong orang-orang yang menyedihkan dan tentunya: merugi. Sesekali orang-orang yang demikian itu perlu meresapi sajak “Sukmaku Merdeka”-nya Wiji Thukul.

Bahwa kita mesti optimistis. Kita mesti yakin dan punya prinsip bahwa penentu nasib hidup kita adalah kita sendiri, bukan presiden, anggota dewan, hakim, dan lain-lain yang kini martabat dan harga dirinya bisa dibeli itu. Bagi saya pribadi—meyepakati Pramoedya Ananta Toer—menggantungkan nasib hidup kepada orang lain adalah kehinaan. Sebab kekecewaan selalu lahir dari rasa ketidakpercayaan kita pada diri sendiri. Sebagaimana yang pernah dikatakan Sylvia Plath: “Jika kau tidak mengharapkan apa-apa dari siapapun, kau tidak akan pernah kecewa.”

Puji syukur. Sampai hari ini saya tidak berharap apa-apa dari negara. Maka bilamana negara (melalui aparatur pemerintahannya) membuat sebuah aturan, kebijakan, atau policy yang dinilai publik tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan nurani kemanusiaan maka saya akan tetap biasa-biasa saja; tidak akan merasa kecewa, marah, stres, apalagi sampai memberontak dan melakukan makar. Tidak. Tidak akan.

Saya hanya sedih, mengapa di tengah zaman yang semakin canggih dan informasinya semakin terbuka seperti ini masih saja ada orang yang menggantungkan nasibnya pada negara. Saya teringat perkataan Leo Tolstoy, “Seorang Kristen harus memeriksa hatinya sendiri untuk menentukan kebahagiaan, ketimbang memandang keluar kepada gereja atau negara.”

Perkataan Leo Tolstoy jika dikontekstualisasi dengan kondisi faktual kita, kiranya tak hanya seorang Kristen, tetapi juga seorang Hindu, Buddhis, Yahudi, Muslim, Konghucu, dan lain-lain perlu membuka mata hatinya agar jangan terlalu terpaku dalam mencari kebahagiaan pada rumah-rumah peribadatan atau gedung-gedung negara dan pemerintahan, tetapi ciptakanlah sendiri: temukan kebahagiaan dan kesejatian hidup itu di dalam diri kita sendiri.
Share:

Negara dalam Zaman Posmodern

Secara nilai, negara dalam zaman posmodern ini tak lebih dari sekadar perusahaan penyedia barang dan jasa yang visi utamanya adalah menimbun laba. Selain itu, ia cuma menjadi panggung hiburan malam yang memfasilitasi setiap orang untuk bertransaksi tanda dan kuasa, sisanya adalah pameran citra dan gaya—yang menjurus pada rasa (setiap orang) untuk diakui dan dihormati.

Secara esensi, negara tetap memberlakukan hukum rimba, namun bukan dengan cara adu kekuatan secara fisik melainkan dengan mengadu orang untuk merasa paling superior sendiri. Alih-alih dipertemukan lewat media sosial dan jagad maya, orang-orang justru menjadi lebih-diri-sendiri; individualistik, narsistik, dan lebih jauh lagi: psikopatik!
Share:

Barisan Nisan Keyakinan

Masih yakin terhadap negara? Ah, terhadap keyakinan saja kita sudah tak yakin, apalagi terhadap negara?

Sudahlah. Kalau kita punya niat baik terhadap bangsa, negara, manusia, umat, masa depan, dan lain-lain, lebih baik langsung saja niat itu diwujudkan dalam bentuk (praksis) nyata dengan cara berbuat baik kepada sesama, berlaku adil kepada keluarga, bersikap pengasih dan penyayang, menjalankan program-program yang bisa memakmurkan desa masing-masing, dan sebagainya, dan seterusnya, dengan tekun melakukan hal-hal baik nun penuh cinta tanpa menunggu “negara turun tangan”.

Toh, kalau energi-energi baik dari dalam diri kita sudah kita curahkan, dampak-dampaknya akan terasa dan terlihat juga, entah cepat atau lambat, hukum sebab-akibat itu pasti bekerja. Intinya, semakin besar energi positif yang kita jalarkan, semakin besar perubahan yang akan terwujudkan. (Yakinlah pada law of attraction! Hehehe...) Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Maka yang kita bisa perjuangankan adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan agar setiap orang tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin. Tapi kemungkinan apa? Ya kemungkinan-kemungkinan kudus dan cita-cita suci yang ada dalam diri kita-lah. Yang penting ingat. Tetap yakin dan terus yakin. 

Tapi, apa kita masih yakin pada keyakinan?
Share: