Selasa, 29 Agustus 2017

Semua Karena Cinta, bukan Negara

Cinta itu lebih konkret daripada negara. Buktinya, engkau setiap hari bekerja bukan demi bangsa dan negara tetapi demi dirimu sendiri dan orang yang engkau cinta.

Contoh lainnya, tidur itu kemewahan, tapi kenapa sering tak kita turuti dan lebih memilih bangun untuk melakukan sesuatu yang kadang justru malah tidak menyenangkan sama sekali dibanding tidur? Jawabannya karena ada harapan, ada cinta, ada kehendak perubahan yang sangkil pada diri sendiri, keluarga, dan orang-orang tercinta.

Kalaupun engkau bekerja di institusi negara atau pemerintahan, itu tak sungguh-sungguh untuk bangsa dan negara melainkan untuk kemapanan diri dan jaminan masa depan anak-cucumu kelak, bukan?

Maka, terpaksa kita harus akui bahwa semua itu terjadi atas dasar cinta, bukan negara, bukan karena motivasi yang muluk-muluk dan belibet tentang rakyat, negara, nusa, bangsa, dan blablabla lainnya. Semua itu karena cinta. Cinta!
Share:

Senin, 28 Agustus 2017

Jumat, 25 Agustus 2017

Rakyat Terus yang Menjadi Korban

Yang menyedihkan dari kehidupan bernegara adalah rakyatnya. Sebab mereka tak pernah diperjuangkan nasib hidupnya oleh pejabat, penguasa, dan politisi-politisinya namun dipaksa-diseret menanggung beban permasalahan demi permasalahan yang sesungguhnya tidak mereka mengerti dan pahami.

Rakyat dimanipulasi kesadarannya untuk meyakini bahwa perubahan itu datang dari satu dua orang penguasa. Mereka lupa bahwa pergantian penguasa itu hanya soal pergantian wajah dan corak kekuasaan saja tetapi outputnya sama: rakyat terus yang menjadi korban.
Share:

Politisi adalah Penipu yang Dilegitimasi Negara

Politisi tak pernah membahas dan menyelesaikan masalah rakyat. Mereka cuma mengurus kepentingannya masing-masing. Rakyat hanya sekadar statistik penunjang legitimasi; hanya alat untuk mewujudkan kepentingan kekuasaan. Sejatinya bagi politisi, rakyat bukanlah subjek yang harus diperjuangkan melainkan objek untuk mencapai kekuasaan.

Politisi adalah penipu yang dilegitimasi negara. Memercayai omongan mereka sama dengan menuruti hasutan setan. 
Share:

Cinta Tak Bisa Direncanakan

Menikah itu tidak ada teorinya, maka itu, takkan kau dapati di universitas atau sekolah tinggi manapun. Menikah itu praktik langsung di atas kenyataan. Sedangkan mencintai bukanlah tentang teori atau praktik. Mencintai itu tanpa kata-kata dan tak perlu banyak gaya. Ia soal kemisteriusan rasa. Rassaaa!

Selain itu, menikah dan mencintai tak selamanya harus berbarengan-beriringan. Orang yang menikah belum tentu saling cinta. Dan orang yang saling mencintai pun tak semuanya (bisa) menikah. Mengutip kalimat “franchise” Sujiwo Tejo: “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”




Share:

Perasaan yang Belum Ternamai

Di dalam hidup ini masih banyak perasaan yang belum diberi nama. Dan manusia kadang tak perlu kamus untuk memahaminya. Bahkan ada perasaan-perasaan tertentu yang untuk dipahami pun tak bisa. Ia hanya bisa dinikmati secara dan oleh rasa itu sendiri.
Share:

Dikecewakan Harapan Sendiri

Jika kau tak mengharapkan apa-apa dari siapa pun, kau takkan pernah kecewa." (Sylvia Plath)
Harapan adalah sebab orang bertahan hidup. Tapi memperbanyak harapan sama dengan memperbesar kemungkinan dikecewakan. Maka itu, berhati-hatilah terhadap apa dan siapa yang dijadikan harapan. Karena dari sanalah bermunculan benih-benih kehamilan kekecewaan.

Tak usah muluk-muluk, oleh suami/istri sendiri saja kita bisa dikecewakan, apalagi oleh pejabat negara dan politisi yang kita tahu hanya lewat media (koran, daring, televisi) yang jelas-jelas tak kita kenal kepribadiannya itu?
Share:

Adakah Teori Mencintai?

Pendidikan paling penting yang harus ditanamkan sejak dini itu bukan pendidikan agama, politik, kewarganegaraan, dll., tapi yang utama adalah pendidikan mencintai. Agar kelak bila menjadi pendakwah, pengacara, developer, dokter, polisi, tentara, dll., dll., dasarnya adalah mencintai.

Tapi, apakah ada teori mencintai?
Share: