Senin, 30 Oktober 2017

Kira-kira Siapa yang Sesungguhnya Rasis?

Ada orang yang menuding orang lain yang bercadar sebagai rasis karena menurutnya kearab-araban dan tidak indonesiawi dan nusantarawi. Padahal si yang bercadar ini tak ada maksud bersikap rasial sedikit pun lewat penampilannya. Ia cuma melaksanakan apa yang diyakininya tanpa ada niat mengolok, mengganggu, atau mengancam orang lain.

Kira-kira dari kasus di atas, siapa yang sesungguhnya bersikap rasis?
Share:

Membeo Pada Katanya-Katanya

Tak sedikit dari kita yang sering membicarakan sesuatu, bahkan merasa takut terhadap sesuatu, tanpa benar-benar tahu tentang keapaan dan kebagaimanaan sesuatu itu sendiri.

Kita menciptakan sendiri pengetahuan tentangnya. Membayangkan kengerian-kengeriannya. Dan kemudian merasa takut berikut mengecamnya, mengutuknya, dan berkampanye pada orang lain untuk ikut merasakan perasaan yang sama.

Inilah rantai setan ketololan yang disempurnakan lewat sikap pongah dan rasa diri paling benar. Padahal sejatinya apa yang kita tahu dan percaya itu cuma lahir dari rasa takut yang sudah kelewat berlebihan karena telanjur membeo pada katanya-katanya dan kadung nyaman dengan indoktrinasi yang berkuasa--yang masif dijalarkan.
Share:

Salah Satu Ciri-Ciri Tulisan yang Tak Layak Dibaca

Tulisan, baik artikel, esai, maupun dalam bentuk buku, yang isinya menyematkan kata "Pak" di depan nama seseorang dan tidak menyertakan kata "Pak" di depan nama seseorang lainnya--padahal orang-orang yang dituliskan itu, baik usia maupun kedudukannya di masyarakat, sama besarnya--adalah tulisan yang tak layak dibaca. Sebab sudah bisa kita tengarai berpihak ke siapa dan ke mana isi tulisan itu.

Orang-orang yang menulis begitu entah karena terlalu lugu atau terlalu dungu atau terlalu apalah sehingga tak bisa "membohongi" pembacanya dengan menyajikan tulisan yang betul-betul terlihat netral dan independen. Mereka itu jangankan berlaku adil sejak dalam pikiran; bahkan sekadar menulis "Pak" atau tidak sama sekali ke semua orang yang mereka tuliskan saja tak becus.
Share:

Orson Welles: Anda tidak Akan Merasa Takut bila Anda tidak Tahu.

Pengetahuan terkadang justru menimbulkan ketakutan. Olehnya itu Orson Welles berkata, "Anda tidak akan merasa takut bila anda tidak tahu." Tapi agaknya pernyataan itu tak sepenuhnya benar juga. Sebab secara alamiah ketakutan itu sudah ada pada diri manusia sejak bayi.

Contohnya bayi. Bayi secara naluriah bisa merasa takut pada orang asing atau benda tertentu tanpa berlandaskan pengetahuan tentang orang atau benda itu.

Tapi kalau kita merujuk pada pernyataan di atas, rasa-rasanya, pernyataan itu tidak ditujukan kepada bayi. Alias pernyataan Welles tersebut ada berlaku pengecualiannya, yaitu untuk bayi.

Jadi sejauh ini, oke-oke sajalah. Saya sepakat, deh, "Anda tidak akan merasa takut bila anda tidak tahu."
Share:

Agar tak Disebut Kurang Piknik

Sebelum mentransformasikan pikiranmu ke dalam perkataan--entah lisan entah tulisan--pastikan terlebih dahulu bahwa kau tidak sedang kelaparan. Sebab pada umumnya, kata-kata yang dilisankan atau dituliskan dalam keadaan lapar cenderung bernuansa marah dan penuh ketegangan. Sehingga malah membuatmu terkesan terlalu serius dan terlalu panik. Dan kalau sudah begitu, orang akan menyebutmu "kurang piknik".
Share:

Tanpa Cinta, Politik Hanya Mengawetkan Kebencian

Ketimbang politik, akan lebih baiknya bila yang kita bicarakan adalah cinta. Sebab problem utama kita hari-hari ini bukanlah tentang perbedaan pilihan (afiliasi) politik, tapi tentang gersangnya rasa mencintai yang kita miliki.

Politik itu keniscayaan, tapi menjalankannya tanpa rasa cinta dan aspirasi terhadap kemanusiaan hanya akan membuat kita semakin memperparah permusuhan dan mengawetkan kebencian.
Share:

Minggu, 29 Oktober 2017

Manusia yang Tak Punya Hati Nurani bukanlah Manusia

Jangan berharap orang berlaku baik padamu, karena itu hanya membuang-buang waktu. Berlaku baiklah pada orang maka orang akan berpikir ulang untuk memburukimu. Ada salah satu kutipan menarik dari film American History X (1998) yang berkenaan dengan soal ini. Bunyinya begini:

"Kita bukanlah musuh, tapi sahabat, tak seharusnya bermusuhan. Walaupun nafsu kadang yang berbicara, bukan berarti hilang kasih sayang. Suara mistis kenangan akan terus terngiang jika didengungkan pada mereka, oleh sisi baik dari sifat kita."

Jadi pada prinsipnya, anggap saja semua orang sebagai sahabat atau teman kita, atau minimum: bukan musuh kita. Sehingga mereka akan selalu kita perlakukan dengan baik. Perkara bila ternyata mereka membalas dengan "air tuba", maka berarti mereka telah gagal untuk kita anggap sebagai manusia; bahkan sebagai musuh pun tak pantas. Sebab itu artinya mereka tak punya hati nurani; mereka adalah binatang murni.
Share:

Bertemanlah dengan Sesama Pecinta Puisi

Kalau hanya mau berteman karena persamaan afiliasi politik, maka pertemanan takkan ada yang langgeng.

Bertemanlah dengan orang yang sama-sama mencintai puisi, maka pertemananmu akan abadi. Sebab orang yang sekali mencintai puisi, selamanya akan puisi.
Share:

Polisi Bahasa Gadungan

Orang yang tak punya ide pembanding atau kemampuan membantah argumen biasanya akan mencari celah pada kekeliruan penulisan, ejaan, dan tanda baca.

Itulah ciri-ciri orang-orang kerdil. Bukan merespon substansi debat atau diskusi yang tengah berlangsung tetapi malah menyasar berikut mengeksploitasi secara berlebih-lebihan kekeliruan penulisan yang dilakukan oleh lawan debatnya.

Sok jadi polisi bahasa, padahal cuma polisi gadungan.
Share:

Sabtu, 28 Oktober 2017

Risiko One Man One Vote di Negara Yang Mayoritas Masyarakatnya Tolol

Di negara yang orang tololnya jauh lebih banyak dibanding orang pandainya, pemilu sistem one man one vote itu malapetaka.

Bayangkan saja, bagaimana mungkin orang yang berpikir dan berkata baik saja tidak bisa, disuruh memilih pemimpin yang baik? Dengan kata lain, sungguh sangat berisiko tinggi dan berbahaya bila masyarakat yang nalarnya tidak kompeten dan moralnya sangat rendah mesti disuruh untuk memilih pemimpin atau wakilnya ke pemerintahan.

Maka fakta dari dominasi ketololan di dalam demokrasi itu takkan menghasilkan perbaikan apa-apa selain semakin menyempurnanya suatu kehancuran.
Share:

Memanusiakan Kemajuan

Yang tak kalah penting dari memajukan manusia adalah memanusiakan kemajuan.

Kita sering egois untuk menghendaki agar setiap manusia mesti maju. Tapi kita lupa, konsep kemajuan setiap manusia itu berbeda-beda. Kita menghargai orang-orang yang ingin memajukan manusia. Tapi, kalau dengan memajukan manusia malah membuat manusia menjadi tidak manusia?

Sebelumnya kita tahulah konsep "kemajuan" yang dimaksud dalam kehidupan dewasa ini. Ialah yang paling globalistik, modernistik, teknokratik, dan lain-lain. Tapi pernyataannya, apakah semua orang di dunia harus begitu? 

Saya rasa, tidak juga. Sebab setiap orang punya latar belakang dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Maka alih-alih memajukan manusia, akan lebih tepat bila yang kita perjuangkan adalah kedaulatan manusia atas dirinya sendiri.

Singkatnya, setiap manusia boleh "maju" dalam bentuk apa pun. Asal tetap "maju" sebagai dirinya sendiri. Jangan kemajuan malah mengakibatkan manusia teralienasi; terasing dari dirinya sendiri--apalagi bila sampai menjadi tak lebih dari sekadar mesin.

Itulah poin dari "memanusiakan kemajuan". Dalam falsafah Kei dibahasakan: Hirani ntub fo ih ni, it did entub fo it did. Secara harfiah maknanya, milik orang lain tetap jadi milik orang lain dan milik kita tetap jadi milik kita.

Tapi makna filosofisnya lebih luas. Yakni bisa bermakna: diri orang lain adalah diri orang lain dan diri kita adalah diri kita. Pandangan orang lain adalah pandangan orang lain dan pandangan kita adalah pandangan kita.  Atau kalau dalam frasa Alquran bunyinya, lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu bagiku agamaku. Bagimu pandanganmu bagiku pandanganku.

Jadi, tak perlu ada pemaksaan dalam hal apa pun. Apalagi soal pandangan hidup dan pemaknaan terhadap konsep "kemajuan" tadi.
Share:

Minum Air Membunuhmu

Kalau ada orang tolol yang latah untuk mengikuti peringatan busuk dari pemerintah bahwa "rokok membunuhmu". Maka katakan pada mereka bahwa tak hanya rokok; gula, garam, dan segala apa pun punya potensi membunuhmu.

Ya, segala hal di dunia ini bisa membunuhmu. Tapi yang membunuhmu itu bukan zatnya, melainkan dari caramu menggunakan dan memperuntukkannya. Dan yang paling berbahaya dari semua itu adalah segala sesuatu yang kaukonsumsi secara berlebihan dan tanpa aturan. Dengan kata lain, berbahaya atau tidaknya sesuatu bukan terletak pada zatnya tetapi pada keberlebihanan dan kekeliruanmu dalam mengonsumsi zat itu.

Omong-omong, sepeda motor dan mobil itu juga pantas ditempel stiker "BERKENDARA MEMBUNUHMU", lho. Coba saja berkendara dengan kecepatan tak kurang dari 80km/jam. Jadi sudahlah. Tak usah berlebihan, deh. Sebab segala hal yang berlebihan itu pasti berbahaya dan sangat berpotensi membunuhmu.

Eh, air juga membunuhmu, lho. Coba saja sekali diminum langsung segalon penuh. Maka, minum air juga membunuhmu. Waspadalah, waspadalah!
Share:

Jumat, 27 Oktober 2017

Negara Sudah tak Relevan untuk Menjadi Rumah Rakyat

Mula-mulanya negara dibuat untuk mengakomodir hajat hidup orang banyak. Kini negara hanya menambah masalah bagi orang banyak. Tapi dengan melihat keberengsekan pejabat negara-pemerintahan hari-hari ini, rasa-rasanya negara sudah tak relevan untuk menjadi rumah rakyat.

De facto, banyak orang kini sibuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya--tanpa peduli urusan kenegaraan. Orang sudah apatis. Dan kalau kita selisik, yang bikin riuh itu pejabat, politisi, buzzer, dan lain-lain yang berkepentingan besar pada kuasa. Meskipun tak sedikit juga ada yang berniat baik. Tapi yang berniat baik itu, faktanya, kalah oleh kekuatan-kekuasaan. Orang baik susah survive di dalam sistem yang buruk. Mereka digiling-gilas oleh sistem.

Dalam praksis dewasa ini, negara, seperti kata Leo Tolstoy, tak lebih dari perampokan yang terorganisir. Kalau sudah demikian maka bisa kita simpulkan: hanya orang yang terlalu lugu dan terlalu rendah hati (rendah diri?) saja yang masih berharap perubahan pada negara.
Share:

Hamba Religius yang Materialistis

Yang utama itu bukan setelah kematian ada kehidupan atau tidak melainkan saat hidup, kita menghidupkan atau mematikan. Karena dasar ontologi dari konsep kehidupan setelah kematian adalah reward dan punishment. Surga atau neraka, dalam bahasa agamanya.

Semakin banyak yang "dihidupkan" saat hidup semakin memperbesar kemungkinan mendapat reward/surga di kehidupan setelah mati. Tapi berketuhanan hanya karena mengejar surga, menurut saya, bukanlah prinsip utama kebertuhanan itu sendiri.

Agak sombong mungkin, tapi bagi saya, hanya hamba amatiran yang bertuhan dan beragama dengan tujuan cuma untuk hitung-hitungan pahala dengan Tuhannya. Lucu rasanya bila seseorang sembahyang, berzakat, naik haji, berbuat baik hanya karena berharap untuk mendapat kaveling--berikut bidadari-bidadarinya--di surga, dan bukan untuk Tuhan itu sendiri. Menurut saya ini kesunyataannya bukan fenomena ilahiah tetapi materialisme.

Itulah sekerdil-kerdilnya hamba. Tampaknya seperti religius dan spiritualis, tapi motivasi dasarnya sangat materialistis.
Share:

Kedaulatan Hanya BIsa Diperjuangkan Sendiri-sendiri

Kenyataan dewasa ini, negara secara fungsi sudah disabotase, secara esensi sudah dimanipulasi, secara materi sudah dikorupsi. Maka kedaulatan negara hanyalah ilusi. Bahwa harkat dan martabat hidup kita hanya bisa kita perjuangkan, tak lain dan tak bukan, hanya oleh diri kita sendiri.
Share:

Dampak Promethean terhadap Ecocide

Sejatinya, manusia itu makhluk alam; bagian dari alam. Tapi lucunya, dewasa ini, manusia merasa diri sebagai pemilik dan penguasa alam. Manusia membuat hak kepemilikan atas alam. Yang ini punya Si A, yang itu punya Si B, dan seterusnya, dan seterusnya ... betul-betul lucu.

Air yang dulunya bebas dikonsumsi sekarang harus dibeli. Tanah yang dulunya bebas ditempati sekarang harus dibeli. Leluhur kita yang hidup ratusan ribu tahun yang lampau mungkin cekikikan melihat kehidupan kita saat ini.

Manusia memandang alam hanya sebagai pemenuh kebutuhan dan pemuas nafsu keinginannya, bukan sebagai sesama makhluk yang harus disayang dan diperhatikan. Eksploitasi gila-gilaan terhadap alam itu lahir dari pemikiran orang-orang yang beranggapan bahwa "alam hanya ada dan harus tunduk padaku".

Kenapa orang-orang bisa berpemikiran begitu? Mungkin karena dominasi pendidikan promethean yang kita terima. Pendidikan promethean itu pendidikan yang pro teknologi, tapi anti ekologis. Hal itu menyebabkan kita menjadi silau dan berlomba-lomba memajukan teknologi dan menyuper-canggihkan segala hal, tapi tak memikirkan dampaknya terhadap kerusakan alam. Bahkan inovasi dan kreasi teknologi yang nyata-nyata menghasilkan ecocide (kehancuran alam) tak kita hiraukan sama sekali. Bomatlah, pokoknya.
Share:

Epicurus dan Konsep Keadilan Universal

Epicurus pernah berkata: "Keadilan tidak pernah ada di dalam dirinya sendiri, namun di dalam urusan manusia dengan yang lainnya di semua ruang dan waktu." Keadilan, dalam perspektif Epicurus, bukan sekadar soal pemerintah dengan rakyat atau manusia dengan manusia, tapi lebih luas: manusia dengan seisi alam raya.

Atas dasar itu kita bisa menyimpulkan bahwa manusia harus berdamai dan bersikap adil pada sesama manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan, dan seluruh komponen kehidupan. Sebab kita semua saling berhubungan dan saling berkaitan. Ada ikatan yang, kata Epicurus, membuat kita "tidak melukai dan tidak dilukai."

Itulah hukum dasar kehidupan. Kalau kita mau hidup harmonis dan toto tentrem kerto raharjo kadyo siniram wayu sewindu lawase. Karena menurut Epicurus, "Hukum yang tidak mendorong kebaikan dalam urusan manusia dengan yang lainnya bukanlah hukum yang memiliki esensi keadilan."
Share:

Berhentilah Menggantungkan Nasib Pada Orang Lain

Masalah yang multi-kompleks seperti yang sekarang berlangsung dalam kehidupan bernegara dewasa ini tak bisa diselesaikan dengan cuma mengganti pemimpin (presiden, gubernur, walikota-bupati, anggota dewan, dan lain-lain).

Lagipula, menyitir kata Pramoedya Ananta Toer, "Menggantungkan nasib pada orang lain adalah pekerjaan yang hina dina." Maka daripada pusing memikirkan negara dan melulu dikecewakan oleh penguasa, alangkah lebih baiknya bila setiap kita fokus mengembangkan bakat, keahlian, dan kreatifitas kita masing-masing.

Di sisi lain tak sedikit dari kita yang suka mengutip kalimat Ali bin Abi Thalib yang "aku sudah pernah merasakan semua kepahitan di dunia. Dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia," tapi tetap saja percaya, berharap, berikut menggantungkan nasib hidupnya pada orang-orang yang kebanyakan tak kita kenal pribadinya tetapi hanya kita tahu dari spanduk, stiker, televisi, koran, dan media massa lainnya itu.
Share:

Manusia Bagian dari Alam

Manusia hidup dari alam, artinya, alam adalah tubuhnya, dan dia harus mempertahankan dialog dengan alam jika tidak ingin mati. Dengan menyebut bahwa fisik manusia dan kehidupan mental terhubung dengan alam, arti sederhananya adalah alam itu sendiri berhubungan dengan dirinya sendiri, karena manusia adalah bagian dari alam.
Share:

Minggu, 22 Oktober 2017

Pintar Saja Tak Cukup

Ada orang yang pintar, tapi mereka tak bijaksana. Sehingga akibat dari apa yang mereka ucapkan dan lakukan justru hanya semakin menambah rangkaian masalah yang ada.

Oleh karena itu, pintar saja itu tak cukup. Yang lebih utama adalah kebijaksanaan. Dan mestinya muara dan puncak tertinggi sebuah kecerdasan adalah kebijaksanaan.

Ingat, menyelesaikan masalah dengan kecerdasan tanpa kebijaksanaan bukanlah menyelesaikan masalah, tetapi justru memperpanjang masalah.
Share: