Jumat, 27 Oktober 2017

Dampak Promethean terhadap Ecocide

Sejatinya, manusia itu makhluk alam; bagian dari alam. Tapi lucunya, dewasa ini, manusia merasa diri sebagai pemilik dan penguasa alam. Manusia membuat hak kepemilikan atas alam. Yang ini punya Si A, yang itu punya Si B, dan seterusnya, dan seterusnya ... betul-betul lucu.

Air yang dulunya bebas dikonsumsi sekarang harus dibeli. Tanah yang dulunya bebas ditempati sekarang harus dibeli. Leluhur kita yang hidup ratusan ribu tahun yang lampau mungkin cekikikan melihat kehidupan kita saat ini.

Manusia memandang alam hanya sebagai pemenuh kebutuhan dan pemuas nafsu keinginannya, bukan sebagai sesama makhluk yang harus disayang dan diperhatikan. Eksploitasi gila-gilaan terhadap alam itu lahir dari pemikiran orang-orang yang beranggapan bahwa "alam hanya ada dan harus tunduk padaku".

Kenapa orang-orang bisa berpemikiran begitu? Mungkin karena dominasi pendidikan promethean yang kita terima. Pendidikan promethean itu pendidikan yang pro teknologi, tapi anti ekologis. Hal itu menyebabkan kita menjadi silau dan berlomba-lomba memajukan teknologi dan menyuper-canggihkan segala hal, tapi tak memikirkan dampaknya terhadap kerusakan alam. Bahkan inovasi dan kreasi teknologi yang nyata-nyata menghasilkan ecocide (kehancuran alam) tak kita hiraukan sama sekali. Bomatlah, pokoknya.
Share: