Sabtu, 28 Oktober 2017

Memanusiakan Kemajuan

Yang tak kalah penting dari memajukan manusia adalah memanusiakan kemajuan.

Kita sering egois untuk menghendaki agar setiap manusia mesti maju. Tapi kita lupa, konsep kemajuan setiap manusia itu berbeda-beda. Kita menghargai orang-orang yang ingin memajukan manusia. Tapi, kalau dengan memajukan manusia malah membuat manusia menjadi tidak manusia?

Sebelumnya kita tahulah konsep "kemajuan" yang dimaksud dalam kehidupan dewasa ini. Ialah yang paling globalistik, modernistik, teknokratik, dan lain-lain. Tapi pernyataannya, apakah semua orang di dunia harus begitu? 

Saya rasa, tidak juga. Sebab setiap orang punya latar belakang dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Maka alih-alih memajukan manusia, akan lebih tepat bila yang kita perjuangkan adalah kedaulatan manusia atas dirinya sendiri.

Singkatnya, setiap manusia boleh "maju" dalam bentuk apa pun. Asal tetap "maju" sebagai dirinya sendiri. Jangan kemajuan malah mengakibatkan manusia teralienasi; terasing dari dirinya sendiri--apalagi bila sampai menjadi tak lebih dari sekadar mesin.

Itulah poin dari "memanusiakan kemajuan". Dalam falsafah Kei dibahasakan: Hirani ntub fo ih ni, it did entub fo it did. Secara harfiah maknanya, milik orang lain tetap jadi milik orang lain dan milik kita tetap jadi milik kita.

Tapi makna filosofisnya lebih luas. Yakni bisa bermakna: diri orang lain adalah diri orang lain dan diri kita adalah diri kita. Pandangan orang lain adalah pandangan orang lain dan pandangan kita adalah pandangan kita.  Atau kalau dalam frasa Alquran bunyinya, lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu bagiku agamaku. Bagimu pandanganmu bagiku pandanganku.

Jadi, tak perlu ada pemaksaan dalam hal apa pun. Apalagi soal pandangan hidup dan pemaknaan terhadap konsep "kemajuan" tadi.
Share: