Sabtu, 04 November 2017

Kutu Pengetahuan

Kutu itu punya kutu. Kutunya kutu punya kutu lagi. Kutu kutunya kutu punya kutunya lagi. Begitu seterusnya sampai kau mati kutu.

Singkat kata, saya mau bilang, tak usah kita terlalu mendewakan para ilmuwan. Mereka memang mengetahui banyak hal, tapi bukan segala hal. Apalagi mereka ilmuwan yang hidup di menara gading. Sebab, kehidupan yang dijalankan itu jauh lebih luas dibanding kehidupan yang dituliskan.

Bahwa sejatinya, hidup itu lebih banyak praktiknya ketimbang teorinya. Karena dari awal ia berlangsung, manusia menyandarkan pengetahuan dan pengalamannya berdasarkan praktik. Teori baru menyusul belakangan. Lagipula, di sesama kalangan ilmuwan saja banyak perbedaan pandangan dan benturan pengetahuan, kok. Jadi sekali lagi saya katakan, tak usah kita terlalu mendewakan mereka para ilmuwan itu dengan segala teori-teorinya.

Tapi, bukan berarti kita tak usah belajar teori juga, sebab kata K.H. Marx, “Ohne radikale theorie keine radikale bewegung.” Tanpa teori radikal mustahil ada praktik radikal. Artinya, teori itu penting untuk dijadikan sebagai pedoman berpikir yang baik dan benar. Teori itu sangat vital sebagai bahan dasar dalam memandang kehidupan.

Eh, tapi sekadar informasi saja, nih, "K.H." di atas itu singkatan dari "Karl Heinrich", ya ... tapi kalau mau diartikan sebagai "Kiai Haji" juga tak apa. Wong Setya Novanto saja bisa pakai nama "K.H.", kok. Entah maksudnya adalah "Kiai Haji" atau "Kebal Hukum" atau apa, entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Share: