Sabtu, 04 November 2017

Melihat Kenyataan Faktual dengan Teori Faktual

Kalau melihat suatu peristiwa atau fenomena, lihatlah ia sebagai kenyataan, bukan berdasarkan teori yang hanya menghasilkan pernyataan "harusnya begini ... harusnya begitu."

Memang, menganalisis suatu masalah dengan menggunakan teori itu baik. Tapi kalau ujung-ujungnya cuma memaksakan kenyataan yang ada untuk mengikuti teori maka, ya sudah, kita tak akan maju ke mana-mana alias akan terus-terusan bergelut di dalam masalah-masalah yang sama.

Mengkaji demokrasi, misalnya, kalau tak dipandang sebagai praksis, kita akan melulu menipu diri dengan teori-teorinya, yang kita tahu, pastinya semua bersifat baik-baik. Ya, pada dasarnya, tak hanya demokrasi, hampir segala hal di dunia ini kalau hanya kita tilik secara teori cenderung sifatnya baik. Politik itu baik, negara itu baik, hukum itu baik, korporasi itu baik, birokrasi itu baik, bahkan industri dan kapitalisme pun ada sisi baiknya secara teori. Tapi pertanyaannya, apakah kita (hanya) hidup di alam teori?

Tidak! Kita hidup di atas lapangan kenyataan. Maka alih-alih memaksakan kenyataan agar mengikuti teori lama yang sudah ada, buatlah teori baru berdasarkan praksis faktual yang tengah berlangsung. Agar bisa kita dapati fakta terbaru mengenai relevansi sebuah teori dengan praktik. Bisa saja besok-besok akan ada temuan baru, misalnya, setelah mengkaji problematika bernegara hari-hari ini maka lahir sebuah teori baru bahwa sesungguhnya negara sudah tak layak lagi untuk ada di kehidupan zaman kiwari. Atau ada teori baru lainnya yang mengatakan bahwa setiap politisi mesti dicambuk sampai mati.

Semua itu mungkin saja bila kita berani merumuskan teori baru berdasarkan kenyataan yang ada, bukan justru segala hal yang terjadi hari ini hanya dilihat dengan teori lama nan usang berikut kadaluwarsa dan pantas binasa itu.
Share: