Selasa, 30 Januari 2018

Menyadari Kebodohan Diri

Kalau kau menyadari bahwa dirimu bodoh, maka kau akan tergerak untuk belajar. Tapi kalau kau merasa dirimu pintar, kau akan terlihat sangat bodoh oleh orang yang jauh lebih pintar darimu.
Share:

Senin, 29 Januari 2018

Minggu, 28 Januari 2018

Ribut Masalah-Akibat, Lupa pada Masalah-Sebab

Kita kebanyakan meributkan masalah-akibat, dan cenderung lupa pada masalah-sebabnya. Kita sibuk memperbanyak ember untuk menadah rembesan air dari atap, tapi atap itu sendiri tak kita perbaiki. Dalam hal korupsi, misalnya, kita hanya fokus berpikir tentang bagaimana agar koruptor bisa ditangkap. Kita tak terdidik berpikir radikal dan analitis untuk memformulasikan suatu sistem yang tidak memungkinkan terjadinya korupsi.

Soal korupsi dan sistem ini, seorang anarko Errico Malatesta pernah memberi kisi-kisi, katanya begini: "Korupsi takkan bisa disembuhkan dengan hanya memenjarakan koruptor, karena sistem politiknya sendiri akar dari korupsi."

Maka jelas absurd bila kita saat ini berpikir bahwa semakin banyak koruptor ditangkap berarti keadaan menjadi semakin baik. Sebab mestinya tugas dan fokus utama negara adalah mencegah adanya korupsi, bukan menangkap koruptor. Percuma menangkap koruptor kalau korupsi jalan terus. Itu orang Tanimbar Kei bilang, "Harmes!" Artinya, sama saja. Mestinya yang dilakukan adalah pembenahan sistem. Dirumuskan suatu formulasi yang tidak memungkinkan (setidaknya meminimalisir) terjadinya korupsi. Dengan demikian tidak terus menerus berlahiran tikus-tikus kantor alias koruptor.
Share:

Sabtu, 27 Januari 2018

Jumat, 26 Januari 2018

Kaum Intelektual yang Sama dengan Anjing Herder

Kalau ada orang pintar membela penguasa secara membabi buta, jangan heran. Itu artinya otaknya sudah disumpal oleh kekuasaan. Jubahnya saja yang kaum intelektual. Namun harga diri dan idealismenya sudah habis dijual.

Memang umumnya, orang yang diberi makan oleh orang lain hampir mustahil bisa berkuasa atas dirinya sendiri; ia akan menjadi abdi bagi orang lain itu. Apalagi orang yang dari sononya bertujuan cuma buat bisa terus diberi makan?

Begitupun kaum intelektual yang orientasi hidupnya dominan untuk uang, jabatan, kekuasaan. Begitu tujuan mereka dipenuhi oleh penguasa, maka tamatlah sudah keintelektualannya. Kalaupun masih disebut kaum intelek, mereka hanyalah intelektual pengabdi, pembela, dan penjaga kekuasaan. Yang model begitu, tak jauh beda nilainya dengan anjing herder.
Share:

Kamis, 25 Januari 2018

Anak-Anak yang Anjing Pavlov

Kebanyakan orangtua kepada anaknya itu melatih, bukan mendidik. Maka tak heran bila manusia-manusia zaman sekarang mentalnya adalah mental anjing pavlov. Budak, pelayan, dan pemenuh ambisi dan keinginan prestisius orangtuanya. Sedang mereka (si anak-anak) kian hari kian terasing dari dirinya sendiri.
Share:

Rabu, 24 Januari 2018

Makar Manusia pada Setan

Tugas setan dalam menyesatkan manusia sudah melampaui target dan standar pencapaiannya setan. Sekarang, manusia sudah lebih setan daripada setan. Dengan kata lain, setan sendiri bahkan tak sanggup meniru kesetanannya manusia saat ini. Bahkan boleh jadi kesetanan yang dilakukan oleh manusia sudah melampaui kode etik profesi setan itu sendiri.

Tapi soal ini masih simpang siur. Artinya belum begitu valid. Maka untuk memastikannya, kita perlu membaca dan memelajari langsung konstitusi, AD/ART, dan kode etik bangsa setan secara serius dan ketat.
Share:

Selasa, 23 Januari 2018

Senin, 22 Januari 2018

Semua Makanan adalah Penunda Lapar, bukan cuma Okky Jelly

Tak hanya Okky Jelly, makanan apa pun pada dasarnya sifatnya adalah cuma menunda lapar. Sebab seumur hidup, manusia akan tetap dan terus merasa lapar. Apa pun yang kaumakan dan meskipun dimakan dengan hantam kromo sampai kekenyangan dan muntah-muntah pun itu sifatnya hanya menunda lapar. Karena 5-10 jam kemudian niscaya kau akan merasa lapar lagi. Kau butuh makan lagi. Dan kemudian nanti akan lapar lagi. Dan begitu yang terjadi seterusnya. Kalau Chairil Anwar bilang "hidup adalah menunda kekalahan", maka "makan adalah menunda kelaparan".

Yang fana adalah kenyang; lapar abadi.
Share:

Minggu, 21 Januari 2018

Perbedaan adalah Legitimasi Mutlak Kebudayaan

Keberagaman budaya, pergaulan, iklim, sejarah, kondisi alam, dan lain-lain menyiratkan bahwa setiap nilai (baik pengetahuan maupun keyakinan) yang dihasilkan oleh suatu kaum (kelompok) akan saling berbeda antar-satu dengan lainnya. Kalau kata Yuval Noah Harari, kebudayaan yang berbeda-beda akan menghasilkan kebaikan dan kebenaran yang berbeda-beda pula.
Share:

Sabtu, 20 Januari 2018

Yang Utama bukan Banyak Tahu atau Kurang Tahu

Sejatinya dalam hidup ini yang utama itu bukan banyak tahu atau kurang tahu. Tapi bagaimana cara kita menyikapi kenyataan hidup itu sendiri. Banyak tahu atau kurang tahu akan menjadi percuma bila cara kita menyikapi kehidupan kurang bijaksana, kurang dewasa, tak mengenal konteks, konyol, blunder, dan penuh ketergesah-gesahan.
Share:

Jumat, 19 Januari 2018

Tak Segala Hal di Dunia ini Harus Diketahui

Tak segala hal di dunia ini harus diketahui. Isi hati suami/istri, misalnya, kalau sampai diketahui bisa mengakibatkan ribut rumah tangga setiap saat. Akhirnya: pernikahan takkan awet, gampang bubar, dan sebagainya.

Maka, yang perlu dijadikan pegangan adalah bahwa dalam hidup ini memang ada hal-hal yang tak harus diketahui, bahkan akan lebih baik jika tidak diketahui. Biarkan saja jadi milik rahasia. Pasrahkan saja pada Tuhan.
Share:

Kamis, 18 Januari 2018

Tak Semua Hal itu Penting

"Sesuatu itu penting ketika sesuatu itu menjadi sesuatu yang penting." (Bertolt Brecht)

Hari-hari ini, kita perlu merenungkan aforisme Bertolt Brecht di atas. Agar kita tak sembarang menganggap penting segala sesuatu. Sebab di dalam lalulintas informasi yang masif seperti sekarang, banyak orang yang menganggap bahwa segala hal itu penting. Bisa kita saksikan, segala informasi yang ada, seremeh apa pun, tetap saja diperdebatkan dan dijadikan sebagai pemantik keributan.

Kalau kita telusuri, hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam mengategorikan informasi, sehingga membias dan rancu, segala hal kita anggap penting. Contohnya, artis yang melepas jilbab kita sikapi bak runtuhnya kakbah. Orang berebut jabatan kita anggap sebagai soal pertaruhan kedaulatan diri kita. Kejadian sering salah ngomong oleh seorang wakil gubernur lebih kita anggap penting ketimbang sistem hukum yang hancur. Persoalan personal artis dan fenomena politik praktis lebih kita anggap penting ketimbang pencurian kekayaan alam dan kerusakan ekologi. Jadinya absurd.

Kita seperti orang gelagapan di tengah laut yang alih-alih mencari pelampung, justru malah mendapat tempurung. Jadi mari kita belajar memetakan masalah. Bedakan mana yang lebih penting untuk dijadikan pembahasan dan mana yang hanya layak ditaruh di tempat pembuangan.
Share:

Rabu, 17 Januari 2018

Kalau Saya Bilang Orang Lain Bodoh Sebenarnya Saya Lebih Bodoh

Kalau saya bilang orang lain bodoh, sebenarnya saya lebih bodoh. Karena itu artinya saya belum mampu menyampaikan pesan dengan tepat agar diterima. Kalau saya menyebut orang lain bodoh, itu berarti saya belum bijaksana dalam mengendalikan diri saya sendiri.

Karena orang yang pandai, bagi saya, adalah mereka yang mampu menyampaikan pandangan yang berbeda kepada orang lain tanpa membikin/menambah konflik yang sudah ada.
Share:

Selasa, 16 Januari 2018

Mengakrabi Kekecewaan

Hidup justru menjadi sangat mengasyikan karena kenyataan yang kita alami seringkali tak sesuai dengan harapan dan pembayangan kita sebelumnya. Karena dari ketaksesuaian harapan dengan kenyataan itulah kita menemukan hal-hal baru. Entah pandangan baru, materi, teman, pekerjaan, cinta, prinsip, dan lain-lain.

Memang kita tentu kecewa saat mendapati kenyataan yang ada tak sesuai dengan harapan kita. Tapi kekecewaan bukanlah hal yang utama dan bukan segalanya. Malahan, kita mesti mengakrabi kekecewaan agar tak larut dalam keterpurukan berikut bangkit dan berjuang dengan lebih baik.
Share:

Senin, 15 Januari 2018

Minggu, 14 Januari 2018

Calon Penguasa yang Mengampanyekan Diri lewat Hiburan dari Biduan Tak Layak Dipilih

Kalau kita telisik fakta di lapangan mengenai pemilu, umumnya ketimbang mewartakan visi-misinya saat kampanye, calon kepala negara, calon kepala daerah, dan calon anggota legislatif, lebih memilih menghadirkan biduan untuk menghibur pendukungnya sendiri. Itu artinya pemilu bukan media untuk menjaring pemimpin yang kompeten tetapi alat untuk menghasilkan penguasa yang impoten. Calon-calon penguasa seperti itu sudah tentu tak layak dipilih.
Share:

Yang Perlu Menjadi Bekal Masyarakat Ketika Menghadapi Pemilu

Yang perlu dijadikan bekal pengetahuan dan prinsip bagi masyarakat ketika menghadapi pemilu presiden (pilpres) adalah bahwa jangan sedikit pun memercayai omongan mereka, kendatipun mereka berani berjanji bahkan bersumpah sekalipun akan menuntaskan kasus pelanggaran HAM, menyelenggarakan swasembada, menunjung tinggi hukum dan keadilan, berdikari, dan lain-lain.
Share: