Minggu, 28 Januari 2018

Ribut Masalah-Akibat, Lupa pada Masalah-Sebab

Kita kebanyakan meributkan masalah-akibat, dan cenderung lupa pada masalah-sebabnya. Kita sibuk memperbanyak ember untuk menadah rembesan air dari atap, tapi atap itu sendiri tak kita perbaiki. Dalam hal korupsi, misalnya, kita hanya fokus berpikir tentang bagaimana agar koruptor bisa ditangkap. Kita tak terdidik berpikir radikal dan analitis untuk memformulasikan suatu sistem yang tidak memungkinkan terjadinya korupsi.

Soal korupsi dan sistem ini, seorang anarko Errico Malatesta pernah memberi kisi-kisi, katanya begini: "Korupsi takkan bisa disembuhkan dengan hanya memenjarakan koruptor, karena sistem politiknya sendiri akar dari korupsi."

Maka jelas absurd bila kita saat ini berpikir bahwa semakin banyak koruptor ditangkap berarti keadaan menjadi semakin baik. Sebab mestinya tugas dan fokus utama negara adalah mencegah adanya korupsi, bukan menangkap koruptor. Percuma menangkap koruptor kalau korupsi jalan terus. Itu orang Tanimbar Kei bilang, "Harmes!" Artinya, sama saja. Mestinya yang dilakukan adalah pembenahan sistem. Dirumuskan suatu formulasi yang tidak memungkinkan (setidaknya meminimalisir) terjadinya korupsi. Dengan demikian tidak terus menerus berlahiran tikus-tikus kantor alias koruptor.
Share: