Kamis, 18 Januari 2018

Tak Semua Hal itu Penting

"Sesuatu itu penting ketika sesuatu itu menjadi sesuatu yang penting." (Bertolt Brecht)

Hari-hari ini, kita perlu merenungkan aforisme Bertolt Brecht di atas. Agar kita tak sembarang menganggap penting segala sesuatu. Sebab di dalam lalulintas informasi yang masif seperti sekarang, banyak orang yang menganggap bahwa segala hal itu penting. Bisa kita saksikan, segala informasi yang ada, seremeh apa pun, tetap saja diperdebatkan dan dijadikan sebagai pemantik keributan.

Kalau kita telusuri, hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam mengategorikan informasi, sehingga membias dan rancu, segala hal kita anggap penting. Contohnya, artis yang melepas jilbab kita sikapi bak runtuhnya kakbah. Orang berebut jabatan kita anggap sebagai soal pertaruhan kedaulatan diri kita. Kejadian sering salah ngomong oleh seorang wakil gubernur lebih kita anggap penting ketimbang sistem hukum yang hancur. Persoalan personal artis dan fenomena politik praktis lebih kita anggap penting ketimbang pencurian kekayaan alam dan kerusakan ekologi. Jadinya absurd.

Kita seperti orang gelagapan di tengah laut yang alih-alih mencari pelampung, justru malah mendapat tempurung. Jadi mari kita belajar memetakan masalah. Bedakan mana yang lebih penting untuk dijadikan pembahasan dan mana yang hanya layak ditaruh di tempat pembuangan.
Share: