Selasa, 13 Februari 2018

Berpihak Pada yang di Luar Kekuasaan

Kalau ada dua pihak berseberang-pandangan hingga gontok-gontokan dan kita dipaksa harus memihak, maka berpihaklah pada pihak yang di luar kekuasaan. Karena mereka cenderung memunyai pandangan yang lebih kritis, objektif, jernih, luas, dan terbuka ketimbang pihak yang dekat dengan kekuasaan--yang umumnya terikat politik etis, bertindak sesuai hierarki dan status quo, serta berfatsun pada atasan (pemegang kuasa) yang lebih tinggi.
Share:

Minggu, 11 Februari 2018

Cukup Mengkritik, Sousi itu Tugas yang Dikritik

Kalau orang yang mengkritik kau tambahi beban untuk sekalian memberi solusi maka secara tak langsung kau mengatakan bahwa "orang yang dikritik itu memang tak punya kompetensi apa-apa sama sekali, bahkan untuk mengambil sari-sari kritik agar dijadikan solusi pun ia tak becus".
Share:

Sabtu, 10 Februari 2018

Menyukai Seseorang tak Mesti Mengetahui Segala Hal Tentangnya

Menyukai seseorang tak mesti mengetahui segala hal tentangnya. Cukup temukan beberapa sisi uniknya dan dekati ia dengan penuh penghayatan—kecuali kepentinganmu adalah ingin menulis autobiografi orang yang kausukai itu. Ya wajar kalau harus tahu segala halnya. Misalnya, saya tak terlalu tahu banyak tentang WS Rendra. Saya hanya tahu beberapa hal tentangnya. Namu saya sangat mengaguminya dan betul-betul menghayati sari-sari pemikiran dan keberseniannya.

Kenapa saya tak harus tahu semua tentangnya? Menurut saya, kalau saya harus mengetahui segala hal tentang WS Rendra, khawatirnya saya malah akan kecewa. Karena tentunya setiap orang tak ada yang sempurna, pasti ada "cacat"-nya. Kiprah seseorang sebagai pengkarya dan pribadi itu tak mesti sama-sama cemerlang atau sama-sama buruk. Bisa bertolak belakang, malahan. Sebab kenyataannya, banyak orang yang karyanya baik dan diterima masyarakat luas, tapi sebagai pribadi, hidupnya berantakan.

Intinya, tak ada manusia yang bebas aib. Jadi kiranya tak perlulah mengaitkan karya seseorang dengan pribadinya atau sebaliknya. Kalau suka ya suka. Kalau tak suka ya tak suka saja. Selama bukan paksaan, tak masalah.
Share:

Jumat, 09 Februari 2018

Orang yang Salah Lebih Mungkin Benar

"Kesalahan adalah jalan sunyi menuju kesalehan." (Adimas Immanuel, Sajak "Perjanjian")

Orang-orang yang berbuat salah seringkali membuat kita menjadi merasa paling benar. Padahal sesungguhnya orang-orang yang berbuat salah itulah yang lebih dekat dengan kebenaran. Karena mereka berbuat salah, dan mereka tahu mereka salah, maka mereka menjadi lebih tahu bahwa mana yang salah dan mana yang benar.

Memang pada dasarnya untuk mengetahui kebenaran, kita tak mesti harus salah dulu. Sebab kita bisa belajar dari pengalaman (orang lain) dan bacaan. Tapi penghayatan atas kebenaran yang berasal dari kesalahan empiris jauh lebih kuat dibanding belajar kebenaran dari "menara gading".

Intinya, kalau ada orang yang berbuat salah, tak perlu ditertawakan, apalagi merasa diri lebih benar. Perubahan itu hukum yang bersifat pasti dan tetap di dalam kehidupan. Setiap makhluk pasti berubah. Kesalahan kita hari ini mungkin tak bisa dibenarkan, tapi bisa diperbaiki. Yang penting kita mau belajar, terutama belajar dari kesalahan. Dan selama seseorang mau belajar dari kesalahan, tak menutup kemungkinan besok-besok dia bisa jauh lebih benar dibanding orang lain. "Lebih benar dibanding orang lain" yang dimaksud di sini bukan soal benar yang petantang-petenteng dan buat gagah-gagahan menyalahkan orang lain, tapi benar dalam sikap diri dan perbuatan.
Share:

Rabu, 07 Februari 2018

Hasil Mengkhianati Usaha

Kalau betul "tidak ada usaha yang mengkhianati hasil", takkan ada orang yang bangkrut, miskin, kalah, kecewa, dan menderita. Jadi, "tidak ada usaha yang mengkhianati hasil" itu cuma sebuah kalimat motivasi yang tergesah-gesah dan pongah. Sebab kesunyataannya, "hasil" tak hanya ditentukan oleh "usaha" melainkan juga ada faktor lain—yang tak kalah besar pengaruhnya.

Apa saja faktor-faktor itu? Ayo kita cari dan temukan sendiri di dalam labirin kehidupan. Tentu tanpa meninggalkan senyuman, bekas ciuman, dan bayang-bayang masa silam. Karena dari sanalah ada pelajaran yang bisa kita jadikan sebagai pengetahuan untuk memperbaiki usaha kita di hari ini dan hari nanti.

Tapi tetaplah berusaha. Tetaplah bekerja. Tetaplah berjuang. Hasil, kesuksesan, kemenangan, laba, profit, dan lain-lain itu anggap saja sebagai bonusnya. Sebab nilai sebuah kemenangan, kesuksesan, dan lain-lain itu justru terletak pada prosesnya. Sedangkan hasilnya itu di luar kuasa kita. Dan jelas kita tak punya hak prerogratif untuk menentukan hasil dari suatu usaha.
Share:

Selasa, 06 Februari 2018

Takkan ada Penilaian yang Adil di Dalam Kebencian

Kalau orang yang berbeda pandang dan kepentingan denganmu kau benci dan musuhi, kau akan kehilangan kesempatan untuk belajar darinya. Padahal justru banyak pengetahuan yang bisa kita ambil dari lawan main kita, entah itu lawan debat, diskusi, maupun lawan politik sekalipun. Kalau kita kadung membenci-memusuhi lawan kita, tentu kita menjadi tak objektif dan tak berkepala dingin dalam memandang-menyikapi mereka. Sebab takkan ada penilaian yang adil di dalam kebencian. Sikap kita pasti tertutup dan cenderung menolak semua bentuk "kebenaran" darinya.
Share:

Senin, 05 Februari 2018

Menganggap Segala Persoalan sebagai Prioritas adalah Absurditas

Prinsip saya masih sama. Bahwa tak semua hal di dunia ini harus diketahui, apalagi dikomentari. Sebab adalah absurditas bila segala persoalan dijadikan prioritas. Maka biarlah orang yang menjadikan segala persoalan sebagai prioritas berikut mengomentarinya itu adalah mereka yang penggangguran atau kurang kasih sayang dan perhatian.

Tidak apa-apa. Dunia membutuhkan mereka untuk menambah warna-warni kehidupan.
Share:

Minggu, 04 Februari 2018

Kematian adalah Berhentinya Proses Rantai Pertanyaan

Kematian adalah berhentinya proses rantai pertanyaan. Dalam kematian, seseorang berhenti mengemukakan pertanyaan. Makanya 2500 tahun SM, nabi Sokrates sudah bilang dalam kultwitnya: Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang tak pantas dijalani.
Share:

Sabtu, 03 Februari 2018

Menggantungkan Hidup pada Berhala

Kita membuat berhala untuk kita tuhankan. Berhala itu betul-betul hidup, tapi ia bertindak mengecewakan. Kita menyalahkannya, tapi kita tak menyalahkan diri kita sendiri yang terlalu bodoh karena menggantungkan nasib hidup pada berhala tersebut.
Share:

Jumat, 02 Februari 2018

Kamis, 01 Februari 2018