Selasa, 09 Juli 2019

Ayo Berbuat Salah!

Pesan "Jangan berbuat salah" itu keliru, sebab dari kesalahanlah seseorang belajar dan mengetahui mana yang benar. Artinya, manusia justru perlu berbuat salah.

Pesan yang tepat itu baiknya begini: Jangan berbuat kesalahan yang sama berulang-ulang karena kau bukan kerbau!

Share:

Kamis, 04 Juli 2019

Akibat Harapan

Harapan yang sepenuhnya menjadi kenyataan akan menghasilkan kesenangan sekaligus penderitaan. Kesenangan karena harapan itu terwujud. Dan penderitaan karena akan lahir harapan baru yang jauh lebih besar dan berat untuk diwujudkan.

Share:

Minggu, 30 Juni 2019

Rabu, 12 Juni 2019

Semakin Tahu Semakin Tidak Tahu

Kalau ada orang yang disebut pintar tetapi orang itu congkak dan angkuh, maka sesungguhnya kepintaran itu adalah kepintaran abal-abal; kepintaran amatiran kelas kaki lima.

Sebab kalau definisi dari orang pintar adalah orang yang memunyai banyak pengetahuan, maka seharusnya orang pintar tadi adalah orang yang rendah hati. Karena seyogianya orang yang tahu banyak hal adalah orang yang sadar bahwa ia lebih tidak mengetahui banyak hal.

Share:

Membenarkan Kesalahan Perempuan

Mengamini fatwa waralaba "perempuan selalu benar" adalah penghinaan secara implisit kepada kaum perempuan. Sebab itu artinya kita mengamini bahwa mereka lemah, tak berdaya, selalu labil, dungu, galau, baper, dan sebagainya sehingga kaum lelaki harus selalu membenarkan (minimal memaklumi) segala apa yang mereka perbuat.

Share:

Pengetahuan Angkuh

Pengetahuan manusia sangat sedikit. Ia takkan bisa mengetahui semua hal di muka bumi ini. Bahkan untuk sekadar mengetahui semua fungsi dari segala sesuatu yang tumbuh dan menempel pada tubuhnya sendiri ia tak mampu. Tak usah jauh-jauh, bisa mengetahui jumlah rambut di kelaminnya saja ia tak becus.

Jadi, buat apa angkuh dengan pengetahuan yang dimiliki? Lebih mendasar, buat apa angkuh dengan pengetahuan? Rasanya tak ada satu pun pengetahuan manusia yang pantas disombongkan.

Share:

Manusia Makhluk yang Banyak Mendatangkan Mudarat

Manusia itu cuma debunya debu di alam semesta. Maka bersikap antroposentris (menganggap diri sebagai sumber nilai segala sesuatu) adalah sebentuk sikap kolot dan tolol. Sebab ada atau tiada manusia, alam semesta tetap bekerja sebagaimana kodratnya.

Malah ketimbang maslahat, kehadiran manusia di bumi jauh lebih banyak mendatangkan mudarat. Tak heran Babi Tua dalam fabel Animal Farm karya George Orwell dengan lantang berkata, "Manusia adalah satu-satunya makhluk yang hanya bisa mengonsumsi tanpa bisa menghasilkan." 

Kalau sudah demikian, lebih mendingan manusia apa babi?

Share:

Selasa, 11 Juni 2019

Bias Gaya Hidup

Kebutuhan hidup beda dengan gaya hidup. Tapi di zaman kiwari kebanyakan orang menjadikan gaya hidup sebagai kebutuhan hidup. Itulah sebabnya sering kita jumpai orang-orang yang hidup berlimpahan harta, pendapatannya tumpah-tumpah, masih saja selalu merasa kurang, gampang frustrasi, dan melulu didera derita, hingga akhirnya melakukan perbuatan yang melampaui batas kewajaran: menyakiti orang lain atau bunuh diri.
Share:

Fakta Fanatika

Fakta tidak penting bagi mereka yang fanatik buta. Karena kebenaran, buat mereka, hanya didasarkan atas rasa suka atau tidak suka, dan bukan atas keilmuan dan kebajikan. Maka tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk berdebat panjang lebar dengan orang semacam itu, sebab yang demikian sama saja dengan menabur gula di laut lepas: percuma dan sia-sia. 

Share:

Warisan Utang

Mewariskan kemiskinan itu buruk. Tapi mewariskan utang jauh lebih buruk. Karena itu sama dengan menjerumuskan anak-cucu ke jurang penderitaan hidup yang dua kali lipat jauh lebih dalam. Selain dituntut membebaskan diri dari kemiskinan, mereka juga dihantui daftar tagihan pembayaran.

Share:

Menyangsikan Politisi

Dua tambah dua hasilnya empat. Namun jika itu diucapkan oleh politisi maka berusahalah untuk menyangsikannya. Ini bukan soal kebenaran-kesalahan dari mekanisme logika yang berlangsung, tetapi karena kita sudah sama-sama tahu bahwa di setiap ucapan dan tindakan politisi selalu ada kepentingan terselubung di baliknya.

Share:

Hidup Tetap Berlangsung meski Negara Tidak Ada

Konsep negara (modern) baru berlangsung 3-4 abad terakhir, cuma seujung kuku jika dibandingkan dengan usia kehidupan spesies manusia yang sudah jutaan tahun. Tapi anehnya, baru sekarang banyak orang merasa bahwa politik praktis (baca: pemilu-pemiluan) dianggap sebagai hidup-matinya peradaban. Seolah-olah kalau tidak ada negara, tidak ada pemilu, peradaban akan runtuh, dunia akan kiamat. Padahal kalaupun saat ini semua negara di dunia bubar, besok matahari akan tetap terbit dari ufuk timur.

Share:

Beragama Secara Sempit

Ada kelompok manusia yang beragama hanya untuk sibuk berdebat soal salat Subuh harus pakai kunut atau tidak; pakai celana harus di atas mata kaki atau tidak; jidat harus hitam atau tidak; zakat fitrah boleh dengan uang atau tidak; dan hal-hal sejenisnya boleh atau tidak—hingga akhirnya mereka lupa memberi makan anak yatim, menebar cinta kasih kepada sesama, dan tidak turut serta menjaga harta, nyawa, dan harga diri orang-orang di sekitarnya ....

Share:

Selasa, 28 Mei 2019

Kolor Kotor

Orang yang belum memahami kompleksitas perasaan manusia akan mudah menghakimi orang lain sebagai tukang selingkuh, pelakor, lonte, lelaki mata keranjang, dsb., dst....

Mereka cuma bergumul di kulit, tak menyelam ke daging, sumsum, hingga jejaring paling halus dalam tubuh.

Share:

Senin, 27 Mei 2019

Merayakan Kehancuran

Mengakui bahwa segala sesuatu sedang menuju kehancuran itu jauh lebih baik daripada terus-menerus menipu diri dengan sugesti waralaba semacam "semua akan indah pada waktunya", atau "hari esok kan lebih baik".

Dengan kata lain, mending mempersiapkan diri untuk melewati kerusakan demi kerusakan yang sedang dan akan terjadi ketimbang terus-menerus menyakiti diri sendiri dengan harapan dan angan-angan yang tak bersandar pada kenyataan.

Share:

Senin, 29 April 2019

Racun Indonesia

Di Indonesia orientasi seksual dijadikan urusan publik, sementara bumi, air, dan kekayaan alam negeri ini malah diprivatisasi oleh bajingan oligarki, kaum kapitalis, pejabat publik, dan para elite politik. Lalu masyarakatnya dipaksa untuk meyakini bahwa perubahan yang lebih baik akan dihasilkan lewat pemilu yang sedari awal penuh cacat di sana-sini. Racun ngana!

Share:

Jodoh itu Temporal

Jodoh setiap orang sesuai dengan kualitas dirinya saat itu. Sedang hidup sangat dinamis dan dialektis. Kualitas diri selalu berubah sesuai proses yang dijalani—seiring waktu dan keadaan. Maka jodoh bukanlah sesuatu yang final melainkan temporal. Bersama dan berpisah itu niscaya.

Share:

Minggu, 31 Maret 2019

Irelevansi Demokrasi

Di dalam masyarakat yang mayoritasnya arogan dan tolol, demokrasi takpantas diterapkan. Sebab kebenaran itu logisnya ditentukan oleh suara terlayak, bukan suara terbanyak. Apalagi kalau yang banyak itu orang-orang dungu. Cilaka!

Share:

Selasa, 26 Maret 2019

Pengetahuan Begitu Dinamis

Pengetahuan yang tidak mengubah perilaku tidak berguna. Namun, pengetahuan yang mengubah perilaku akan cepat kehilangan relevansinya. Semakin banyak data yang kita miliki dan semakin baik kita memahami sejarah, semakin cepat sejarah mengubah arahnya, dan semakin cepat pula pengetahuan kita ketinggalan zaman.

Share:

Penemuan Kebodohan

Penemuan terbesar manusia adalah penemuan kebodohan. Begitu manusia menyadari betapa sedikit yang mereka tahu tentang dunia, mereka akan termotivasi untuk belajar, mencari tahu, dan mengembangkan ilmu yang mereka dapatkan. Dengan demikian sains terus maju.

Share:

Pembangunan Kehancuran

Manusia akan gagal membangun rumah di atas pondasi yang keropos. Begitupun membangun negara, akan terus-terusan menemui kegagalan jika pondasinya adalah permusuhan dan perpecahan. Dan jika kondisi ini tetap dipaksakan, yang terjadi hanyalah parade kepalsuan dan transaksi penipuan. Semua akan berakhir pada satu hal: kehancuran!

Share:

Mendikte Tuhan

Kebanyakan orang suka mendikte Tuhan. Mereka mendesak Tuhan untuk mengikuti semua keinginan mereka. Bahkan untuk kepentingan politik, ekonomi, bisnis, hingga kezaliman dan kebejatan yang mereka lakukan kepada makhluk lain pun mereka sertakan Tuhan sebagai pembenarnya.

Share:

Jual Diri

Semua orang pada dasarnya menjual diri. Menjual barang, ide, pandangan, karya, jasa, tenaga, dan, ya, juga tubuhnya. Namun karena manusia cenderung berpikir cuma di permukaan, maka kebanyakan dari kita memaknai kata "menjual diri" hanya sebagai menjual tubuh.

Itulah akibat dari masyarakat yang hidup di negeri yang lebih mengutamakan politik praktis ketimbang filsafat dan sains.

Share:

Sirkulasi Kemiskinan

Banyak orang sebenarnya tidak miskin, tetapi mereka suka mengata-katai diri sendiri miskin, akhirnya mereka miskin benaran. Mereka mau membantah itu, tetapi justru bantahan mereka malah semakin menunjukkan bahwa mereka benar-benar miskin.

Share:

NARKOLITIK

Sebagaimana narkoba, politik juga candu. Perbedaannya, yang satu diganjar pidana, sedang yang lainnya dianjurkan negara. Tapi efek samping keduanya sama saja. Sama-sama bikin dungu!

Share:

Toleransi dalam Bersalam-salaman dalam Pandangan Cak Nun

Toleransi bukanlah mengucapkan salam berulang-ulang dengan bahasa yang berbeda, namun cukup menggunakan satu bahasa saja (sesuai keyakinan) tetapi disampaikan dengan tulus dan dengan maksud yang baik.

Mengucapkan "assalamualaikum ...", "syalom", "omswastiastu", dan lain-lain berentet dalam satu waktu itu tidak efisien, mubazir, dan buang-buang waktu. Kalau kau yakin salam yang diajarkan agamamu itu tujuannya baik maka cukup pakai saja salam versi agamamu.

Nah yang menjawab juga pakai saja salam versi agamanya. Jadi bebek ya "wekwek", kambing ya "mbeek". Takusah bebek dipaksa "wekwek" sekaligus "mbeek" dan kambing juga dipaksa "mbeek" sekaligus "wekwek".

Biar saja masing-masing orang menggunakan bahasanya sendiri, asal tujuannya baik dan disampaikan tulus dari dalam hati. Itulah pluralisme yang sejati. Setiap orang berekspresi sesuai rasa agamanya sendiri.

Share:

Hijrah Ogeb

Setiap saat semua orang berhijrah. Sebab semua orang menghendaki kebaikan pada diri sendiri. Jika ada orang yang malah bertindak sebaliknya: menyakiti dan memperburuk-buruk dirinya, boleh diduga ia terlalu kuat terbelenggu nafsu dan ketololan. Ogeb, kata Edot Ciledug.

Share:

Kegoblokan Diri

Jika aku mengatakan "kau goblok", ketahuilah bahwasanya aku jauh lebih goblok. Sebab menggoblok-gobloki orang adalah pekerjaan orang goblok. Ialah orang yang takmampu mengendalikan emosi yang ada pada diri sendiri.

Namun, takmasalah-lah kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain.

Share:

Derita Obsesi Memiliki

Banyak orang menderita di abad ini bukan karena orang lain, tetapi karena diri mereka sendiri.

Mereka cuma berfokus pada memiliki, memiliki, dan memiliki, namun takpernah mau menjadi, menjadi, dan menjadi. Melihat kenyataan ini, Erich Fromm geleng-geleng kepala saja di alam kubur.

Share: