Rabu, 12 Juni 2019

Semakin Tahu Semakin Tidak Tahu

Kalau ada orang yang disebut pintar tetapi orang itu congkak dan angkuh, maka sesungguhnya kepintaran itu adalah kepintaran abal-abal; kepintaran amatiran kelas kaki lima.

Sebab kalau definisi dari orang pintar adalah orang yang memunyai banyak pengetahuan, maka seharusnya orang pintar tadi adalah orang yang rendah hati. Karena seyogianya orang yang tahu banyak hal adalah orang yang sadar bahwa ia lebih tidak mengetahui banyak hal.

Share:

Membenarkan Kesalahan Perempuan

Mengamini fatwa waralaba "perempuan selalu benar" adalah penghinaan secara implisit kepada kaum perempuan. Sebab itu artinya kita mengamini bahwa mereka lemah, tak berdaya, selalu labil, dungu, galau, baper, dan sebagainya sehingga kaum lelaki harus selalu membenarkan (minimal memaklumi) segala apa yang mereka perbuat.

Share:

Pengetahuan Angkuh

Pengetahuan manusia sangat sedikit. Ia takkan bisa mengetahui semua hal di muka bumi ini. Bahkan untuk sekadar mengetahui semua fungsi dari segala sesuatu yang tumbuh dan menempel pada tubuhnya sendiri ia tak mampu. Tak usah jauh-jauh, bisa mengetahui jumlah rambut di kelaminnya saja ia tak becus.

Jadi, buat apa angkuh dengan pengetahuan yang dimiliki? Lebih mendasar, buat apa angkuh dengan pengetahuan? Rasanya tak ada satu pun pengetahuan manusia yang pantas disombongkan.

Share:

Manusia Makhluk yang Banyak Mendatangkan Mudarat

Manusia itu cuma debunya debu di alam semesta. Maka bersikap antroposentris (menganggap diri sebagai sumber nilai segala sesuatu) adalah sebentuk sikap kolot dan tolol. Sebab ada atau tiada manusia, alam semesta tetap bekerja sebagaimana kodratnya.

Malah ketimbang maslahat, kehadiran manusia di bumi jauh lebih banyak mendatangkan mudarat. Tak heran Babi Tua dalam fabel Animal Farm karya George Orwell dengan lantang berkata, "Manusia adalah satu-satunya makhluk yang hanya bisa mengonsumsi tanpa bisa menghasilkan." 

Kalau sudah demikian, lebih mendingan manusia apa babi?

Share:

Selasa, 11 Juni 2019

Bias Gaya Hidup

Kebutuhan hidup beda dengan gaya hidup. Tapi di zaman kiwari kebanyakan orang menjadikan gaya hidup sebagai kebutuhan hidup. Itulah sebabnya sering kita jumpai orang-orang yang hidup berlimpahan harta, pendapatannya tumpah-tumpah, masih saja selalu merasa kurang, gampang frustrasi, dan melulu didera derita, hingga akhirnya melakukan perbuatan yang melampaui batas kewajaran: menyakiti orang lain atau bunuh diri.
Share:

Fakta Fanatika

Fakta tidak penting bagi mereka yang fanatik buta. Karena kebenaran, buat mereka, hanya didasarkan atas rasa suka atau tidak suka, dan bukan atas keilmuan dan kebajikan. Maka tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk berdebat panjang lebar dengan orang semacam itu, sebab yang demikian sama saja dengan menabur gula di laut lepas: percuma dan sia-sia. 

Share:

Warisan Utang

Mewariskan kemiskinan itu buruk. Tapi mewariskan utang jauh lebih buruk. Karena itu sama dengan menjerumuskan anak-cucu ke jurang penderitaan hidup yang dua kali lipat jauh lebih dalam. Selain dituntut membebaskan diri dari kemiskinan, mereka juga dihantui daftar tagihan pembayaran.

Share:

Menyangsikan Politisi

Dua tambah dua hasilnya empat. Namun jika itu diucapkan oleh politisi maka berusahalah untuk menyangsikannya. Ini bukan soal kebenaran-kesalahan dari mekanisme logika yang berlangsung, tetapi karena kita sudah sama-sama tahu bahwa di setiap ucapan dan tindakan politisi selalu ada kepentingan terselubung di baliknya.

Share:

Hidup Tetap Berlangsung meski Negara Tidak Ada

Konsep negara (modern) baru berlangsung 3-4 abad terakhir, cuma seujung kuku jika dibandingkan dengan usia kehidupan spesies manusia yang sudah jutaan tahun. Tapi anehnya, baru sekarang banyak orang merasa bahwa politik praktis (baca: pemilu-pemiluan) dianggap sebagai hidup-matinya peradaban. Seolah-olah kalau tidak ada negara, tidak ada pemilu, peradaban akan runtuh, dunia akan kiamat. Padahal kalaupun saat ini semua negara di dunia bubar, besok matahari akan tetap terbit dari ufuk timur.

Share:

Beragama Secara Sempit

Ada kelompok manusia yang beragama hanya untuk sibuk berdebat soal salat Subuh harus pakai kunut atau tidak; pakai celana harus di atas mata kaki atau tidak; jidat harus hitam atau tidak; zakat fitrah boleh dengan uang atau tidak; dan hal-hal sejenisnya boleh atau tidak—hingga akhirnya mereka lupa memberi makan anak yatim, menebar cinta kasih kepada sesama, dan tidak turut serta menjaga harta, nyawa, dan harga diri orang-orang di sekitarnya ....

Share: